Di suatu
negeri yang jauh disana, sebut saja negeri Antah Barata. Terdapatlah sebuah
Universitas di kawasan dekat pantai tapi jauh. Bukan karena Universitas
tersebut kuno sehingga harus berada di dekat pantai tapi jauh, akan tetapi
karena Universitas tersebut mengusung misi konversapi, apalah namanya, aku tak
tahu.
Suatu
hari mahasiswa baru tetapi sudah lama jadi mahasiswa, sebut saja si Indih,
datang ke kampus dengan PeDenya untuk kuliah Kulkas 2. Itu adalah kuliah
perdananya pada semester lanjutan. Mata kuliah Kulkas 2 merupakan mata kuliah
yang cukup ditakuti oleh para mahasiswa.
Saat
perjalanan ke kampus, dia menyempatkan untuk mampir ke fakultas lain untuk
meminta cap sesuatu. Dia melakukan hal itu karena itu merupakan amanah yang
diberikan oleh kakaknya.
Sesampainya
tiba di fakultas yang dituju, dia langsung menuju suatu gedung TjeOne. Namun ternyata
dia salah gedung, karena gedung yang benar adalah gedung TjeVen, sehingga dia
langsung menuju TjeVen dengan semangatnya.
Sesampainya
di gedung TjeVen, dia langsung menuju tempat ia kuliah, yaitu di gedung DheTwo.
Ditengah perjalanan dia berhenti sejenak untuk meng-upload bacaannya ke blog
miliknya. Kemudian dia langsung melanjutkan perjalanannya ke DheTwo.
Sesampainya
di gedung DheTwo, dia langsung menuju kelas yang berada di lantai dua yang
menjadi tempat kuliahnya. Dia datang agak telat dibanding kawannya sehingga dia
memperoleh tempat duduk paling depan. Akan tetapi, karena takutnya dia akan
dosen dan mata kuliah tersebut, maka dia memindah tempat duduknya ke urutan
paling belakang.
Sesudah
pindah ke urutan yang paling belakang, dia mulai berkeliaran untuk tanya-tanya
ke temannya tentang materi yang akan dibahasnya. Ruang kelas saat itu riuh
sekali, dan tibalah saatnya dosen yang ditakuti oleh banyak mahasiswa itu
datang.
“Assalamu’alaikum wr. wb.” Dosen
tersebut langsung menyapa para mahasiswa.
”Wa’alaikumsalam wr. wb.” Mahasiswa menjawab dengan serempak.
Tanpa
membuang banyak waktu, dosen tersebut langsung menyeret kursi yang berada di
baris paling depan pojok kiri dan langsung meletakkan buku-buku bawaannya.
Setelah itu sang dosen langsung mengambil spidol dan menuliskan materi yang
telah lalu untuk disandingkan dengan materi yang baru.
Setelah
sang dosen selesai menulis, beliau langsung menunjuk mahasiswa untuk maju. “Kamu yang dipojok maju!!” sang dosen
menunjuk mahasiswa yang duduk paling pojok sebelah kanan paling belakang. Sang
mahasiswa pun langsung maju ke depan.
Setelah
beberapa saat, mahasiswa tersebut tak kunjung bisa untuk menyelesaikannya. Maka
sang dosen langsung memerintah mahasiswa tersebut untuk berdiri dan menyuruh
teman sebelahnya untuk maju. Karena mahasiswa tersebut juga tak bisa, maka
digantikanlah dengan teman yang disebelahnya. Begitupun teman sebelahnya tak
bisa, maka sekarang terdapatlah tiga orang mahasiswa yang berdiri didepan
kelas.
Kemudian
teman yang selanjutnya akhirnya bisa menyelesaikannya. Maka ketiga mahasiswa
tadi yang berdiri sekarang dipersilahkan duduk, akan tetapi mereka bertiga
harus bernyanyi terlebih dahulu. Mereka menyanyikan lagu daerah Si Pacul Gundul,
request sang dosen.
Akhirnya
tiba sampai giliran si Indih maju kedepan. Dia disuruh untuk membaca tulisan
yang ditulis oleh sang dosen di papan tulis. Akan tetapi, karena saking
gugupnya dia, maka dia tak kunjung bisa menjawab.
“Teman-teman, saya akan mencoba menjawab
menjelaskan…” kata si Indih.
“Salah!!!” kata sang dosen memotong.
Si Indih
selalu salah dan salah dalam pembacaan tulisan yang ada dipapan tulis. Hal itu
berlangsung lama hingga pada akhirnya dia bisa membaca tulisan tadi secara
benar menurut sang dosen.
“Dipunyai fungsi-fungsi f kecil dan f besar
dari I ke R dengan I anggota R. jika f besar aksen x sama dengan f kecil x
untuk setiap x di I maka f besar disebut suatu anti turunan f kecil.” Kata si Indih
secara gugup.
Akhirnya
si Indih pun kembali ke tempat duduknya. Setelah si Indih duduk kembali, sang
dosen pun langsung membuat soal yang baru, tak tanggung-tanggung, soalnya ada
tiga sekaligus. Lalu ketiga mahasiswa disebelah Indih pun maju secara bersama-sama.
Namun
yang terjadi didepan adalah mereka tak bisa melakukan dengan baik. Bukan karena
mereka tidak bisa, akan tetapi karena tulisan mereka salah menurut sang dosen.
Kemudian mereka digantikan oleh teman-temannya. Namun kesemua mahasiswa yang ditunjuk
tadi sama saja, tidak bisa menulis seperti apa yang diinginkan sang dosen.
Hingga hampir separuh mahasiswa hampir sudah maju semua.
Akhirnya
sang dosen pun tak melanjutkan untuk membahas soal tadi, tapi malah justru
menyuruh mahasiswanya untuk belajar bahasa Indonesia lagi. Sang dosen pun
mengatakan bahwa mahasiswa saat itu sudah menjadi generasi yang hilang.
Bukannya
menyelesaikan soal tadi, tapi sang dosen justru memberikan sebuah soal
olimpiade SD. Hingga akhirnya dosen tersebut yang menjawab soalnya sendiri.
Didalam
perkuliahan, sang dosen juga sempat bercerita tentang kisah-kisahnya.
Diantaranya adalah tiket pesawatnya yang sudah menumpuk, pengalaman mengajarnya
dan lain-lain.
Akhirnya
kuliah pun selesai, sang dosen pun meninggalkan ruangan.
“Assalamu’alaikum…” salam
sang dosen sambil meninggalkan ruangan.
“Wa’alaikumsalam,,,” para
mahasiswa menjawab.
Walaupun
kuliah yang menegangkan, akan tetapi si Indih tak patah semangat untuk belajar,
karena si Indih merasa paling bodoh dikelasnya.
Indih pun
bertekad untuk belajar Kulkas 2 secara serius. Dia berpikir untuk selalu
mengejar teman-temannya yang intelejensinya lebih tinggi darinya. Dia ingat
kata seorang dosennya, KERJA KERAS. Dia pun bertekad untuk selalu bekerja
keras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar